Rabu, 21 November 2012

(Taiwan Fanfiction) Iridescent Time - part 4-END

Judul : Iridescent Time
Author : Ariek Chun-AzzuraChunniess
Genre : Tragedy, Romance
Rating : PG-15
Cast :
JJ Lin as Lin Jun Jie
Hebe Tian as Tian Fu Zhen
Wilber Pan as Pan Wei Bo


-----------------------------------------------


Usai turun dari bus kota, kulangkahkan kakiku menyusuri trotoar sepanjang jalan menuju rumahku. Kutolak tawaran Wei Bo untuk mengantarku pulang. Aku lebih memilih sendiri daripada satu menit bersama orang yang sangat dingin seperti es.

Sebuah taksi tiba-tiba berhenti di sampingku.

"Fu Zhen? Kau pulang sendiri?" tegur Xiao Jie dari dalam taksi. Dia melongokkan kepalanya. Sebentar ia kembali masuk ke dalam taksi, lalu membuka pintu dan keluar dari taksi itu. Xiao Jie berdiri di sampingku dan membiarkan taksi itu pergi.

"Kenapa keluar dari taksi? Memangnya kau mau kemana?" tanyaku.

"Tak apa. Aku cuma ingin menemanimu. Lagipula rumah Yi Feng tak jauh dari rumahmu. Tumben kau pulang sendiri? Wei Bo mana?"

"Aku sedang ingin pulang sendirian. Sekalian aku juga ingin mengingat jalanan di Nantou." jawabku. Aku dan Xiao Jie berjalan beriringan. Kami mengobrolkan banyak hal dan tertawa bersama. Xiao Jie tetaplah Xiao Jie. Dari dulu dia memang penuh kehangatan.

Jika diingat-ingat, bukankah harusnya aku masih pacar Xiao Jie sekarang? Kami terpisah begitu saja sejak tragedi itu. Tapi, entahlah. Seperti ada tembok besar yang menghalangiku kembali pada pelukan Xiao Jie. Bahkan untuk berpegangan tangan saja aku merasa tak mampu.
Tanpa kusadari kami sampai di depan rumahku.

"Kau sudah sampai. Masuklah." ucap Xiao Jie.

Aku hanya diam. Tak beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri.

"Fu Zhen?"

Kuhadapkan tubuhku ke Xiao Jie. Perlahan tanganku terangkat, lalu melingkar erat di tubuh Xiao Jie. Sedikitpun Xiao Jie tidak protes. Dia justru membelai kepalaku lembut.

Desiran-desiran hangat menyergap hatiku. Nyaman. Dekapan Xiao Jie benar-benar hangat hingga membawaku seakan melayang.

Tiba-tiba Xiao Jie melepas tubuhku dari pelukannya. Aku terheran-heran dengan tingkah. Sekejap jantungku langsung berdegub kencang. Mataku terbelalak lebar. Kulihat Wei Bo tengah berdiri sejauh tiga yard dari tempatku dan Xiao Jie berdiri.

Wei Bo menatapku dan Xiao Jie tanpa berkedip. Nafasnya memburu hingga membuat dadanya timbul tenggelam. Sejurus kemudian dia berjalan cepat ke arahku.

"Wei Bo, aku bisa menjelaskan." kataku. Tanpa sedikitpun memberiku kesempatan bicara, Wei Bo langsung menghantamkan kepalan tangannya ke wajah Xiao Jie. Aku tersentak kaget. Jantungku berdebar semakin cepat.

"Begini perlakuanmu pada sahabatmu sendiri, ha?!!!" bentak Wei Bo. Xiao Jie terbungkuk sambil meringis kesakitan. Kucoba untuk menolongnya, namun Wei Bo langsung menarik tanganku ke belakang.

"Cepat masuk ke dalam rumah!!" kata Wei Bo padaku.

"Wei Bo! Ini bukan salah Jun Jie! Aku yang memulainya!!"

"Aku yang salah membiarkan kalian bersama! Harusnya aku memilih mahasiswa lain untuk proyek ini! Aku salah telah memilih dia! Masih banyak mahasiswa biokimia lain yang lebih beradab dari dia!!"

"Wei Bo!! Kau tidak mengerti cerita yang sebenarnya!!"

"Aku sudah mengerti, Fu Zhen! Pria busuk ini ingin merebutmu dariku!!"

"Wei Bo!! Cukup!!!" air mataku terurai ke udara. Dadaku bergemuruh mendengar perkataan Wei Bo yang sangat menyakitkan.

"Cepat masuk!!" Wei Bo mencengkeram lenganku lalu menarikku ke dalam rumah. Aku hanya bisa menangis. Menoleh sesaat pada Xiao Jie yang memandangiku dari luar pagar. Ia memegangi pipinya yang samar-samar membiru.

###

Sejak kejadian itu Xiao Jie menjaga jarak terhadapku. Dia dan Wei Bo juga tak lagi seakrab dulu. Keduanya saling bicara hanya karena urusan kuliah dan penelitian saja. Selebihnya dingin dan saling menahan diri.

Tanpa kusadari terbesit perasaan bersalah dalam hatiku. Merasa bersalah karena telah membuat dua sahabat karib itu menjadi retak dan saling menjauh. Kenapa ingatanku yang kembali ini malah menimbulkan masalah baru?

"Fu Zhen, alkoholnya sudah kau ambil?" tanya Wei Bo sambil memicingkan matanya di depan lensa okuler mikroskop. Gaya bicaranya semakin dingin sejak kejadian itu. Tak tahukah dia jika kelakuannya itu hanya membuatku tidak nyaman berada di dekatnya? Aku benar-benar tidak suka dengan orang yang marahnya berlarut-larut.

"Alkoholnya habis. Tadi kucari di semua rak tidak ada."

"Apa? Aku sangat memerlukannya sekarang. Gelas obyek ini harus segera disterilkan." kata Wei Bo sedikit menggerutu. Aku hanya diam menghadapi tempramennya yang selalu berubah-ubah seperti itu.

"Ambil saja di kamar penyimpanan. Di sana tersedia banyak." sahut Ke Qun sambil memeluk setumpuk buku. Ia meletakkannya di samping meja Wei Bo, lalu berjalan keluar.

"Tapi, kamar penyimpanan itu gelap, Wei Bo. Kemarin aku masuk ke sana, saklar lampunya rusak" ujarku.

"Kau lihat stainless steel itu? Di sana ada sebungkus lilin. Ini korek apinya. Sekarang ambillah." kata Wei Bo sambil menyerahkan korek api padaku. Kuturuti saja perintahnya. Aku tahu dia hanya ingin protes padaku. Dia tidak suka melihatku berpelukan dengan Xiao Jie waktu itu. Dan sepenuhnya aku sadar, itu adalah salahku karena tidak bisa menahan diri. Aku hanya perlu meladeni kemarahan Wei Bo untuk sementara waktu.
Sambil membawa sebatang lilin, kumasuki kamar penyimpanan yang dipenuhi lemari kaca itu. Puluhan botol besar kecil berjajar di sana. Sinar lilin yang samar dan sesekali bergoyang karena kibasan jas labku membuat mataku bersusah payah mencari label bertuliskan Alcohol. Kudekatkan lilin putih itu ke tiap botol untuk memastikan nama yang tertempel di sana.

Tak seberapa lama berada di ruangan itu, tiba-tiba hidungku mencium aroma menyengat. Kukibaskan tanganku untuk menjauhkan aroma tidak sedap itu. Tapi makin lama, bau misterius itu semakin kuat. Entahlah apa itu. Aku baru menciumnya kali ini. Benar-benar menyengat sampai membuat kepalaku pusing.

Kulanjutkan pencarianku dalam ruangan itu. Sesekali kukibaskan tanganku untuk mengusir aroma aneh itu. Tiba-tiba aku merasa sulit menarik nafas. Serasa ada yang menekan dadaku hingga membuatnya sulit mengembang dan mengempis. Pening di kepalaku semakin menjadi-jadi. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba tubuhku terasa lemas?

Tangan dan kakiku bergemetar. Lilin yang kubawa tak sanggup lagi kupegang. Lilin putih itu terjatuh lalu menggelinding ke kaki lemari. Menyusul kemudian aku roboh di sana. Sepintas nyala lilin mengerjap-ngerjap di mataku. Buram. Ruang penyimpanan yang gelap itu makin gelap.

Sunyi.

Semakin gulita.

###

"Fu Zhen dimana?" tanya Jun Jie begitu ia masuk ke dalam laboratorium. Sontak seluruh orang dalam ruangan itu menoleh, termasuk Wei Bo.

"Ehm, setahuku tadi dia ke ruang penyimpanan." jawab Kd Qun sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Untuk apa kau mencarinya?" sahut Wei Bo ketus.

Jun Jie menarik nafas. Mencoba tetap tenang mendengar pertanyaan Wei Bo yang membuat telinganya panas.

"Dosen Fong menyuruhku mengambil jurnal yang dibawa Fu Zhen segera. Beliau harus mengkajinya sekarang untuk bahan seminar besok." jelas Jun Jie panjang lebar. Sebisa mungkin mengeluarkan dirinya dari tuduhan tak beralasan yang tersirat dari mata Wei Bo.

"Tunggu saja sebentar. Dia sedang di ruang penyimpanan." kata Wei Bo tanpa sedikitpun beranjak dari tempatnya.

"Ruang penyimpanan? Bukankah saklar lampu ruangan itu rusak?" tanya Jun Jie heran.

"Kau tak perlu mencemaskannya. Fu Zhen bukan anak tk. Dia membawa lilin ke sana."

Jun Jie terperanjat mendengar penuturan Wei Bo. Ia membuka matanya lebar-lebar. Mencoba memastikan kembali apa yang baru saja didengar oleh telinganya.

"Apa?! Lilin? Fu Zhen membawa lilin ke dalam ruang penyimpanan?!!" tanya Jun Jie dengan nada suara meninggi. Wei Bo terdiam melihat perubahan ekspresi di wajah Jun Jie.

"Jawab!! Kau membiarkan Fu Zhen masuk ke dalam sana dengan lilin??!"

"Iya, kenapa?" tanya Wei Bo. Jun Jie semakin murka mendengar jawaban Wei Bo yang benar-benar ala kadarnya. Ia berjalan mendekat ke arah Wei Bo lalu mencengkeram kerah jas laboratoriumnya.

"Bodoh!!! Kau ingin membunuhnya, ha?!! Kau pikir apa isi ruangan itu?!! Ceroboh sekali kau menyuruh Fu Zhen masuk ke dalam sana dengan membawa api?!!" bentak Jun Jie. Matanya merah menyala memancarkan ledakan emosi di dadanya.

Wei Bo hanya bisa membisu mendengar bentakan Jun Jie. Ia mencoba menerka-nerka apa sebenarnya maksud Jun Jie.
Jun Jie menghempaskan tubuh Wei Bo ke belakang. Serta merta ia keluar dari ruangan itu dan berlari ke ruang penyimpanan. Beberapa orang mahasiswa yang melihat pertengkarannya di laboratorium mengikutinya dari belakang. Sambil memasang masker di hidungnya, Jun Jie berlari menaiki anak tangga. Ia langsung membuka pintu ruang penyimpanan lebar-lebar begitu sampai di sana. Didapatinya Fu Zhen tergeletak lemas di antara lemari penyimpanan.

Fu Zhen menutup matanya rapat. Bibirnya mulai berubah keunguan sementara suhu tubuhnya menurun drastis. Tanpa banyak pikir, Jun Jie langsung menggendongnya keluar dari ruangan itu. Beberapa orang mahasiswa yang bergerombol di depan pintu tersentak kaget melihat kondisi Fu Zhen. Tak terkecuali Wei Bo, dia diam mematung di depan tangga melihat keributan itu.

###

"Bagaimana keadaan Fu Zhen?" tanya seorang lelaki tua yang tak lain adalah Dosen Fong. Ia langsung menyambar ke arah Jun Jie dan Wei Bo yang duduk di depan ruang ICU. Belum sempat Jun Jie menjawab, seorang dokter keluar dari ruangan itu diikuti beberapa orang perawat. Jun Jie dan Wei Bo langsung menghampirinya.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Dosen Fong lagi.

"Racunnya telah menyebar ke pembuluh darah. Kami harus melakukan pencucian darah sebelum organ-organ lain terkena." jelas dokter muda itu. Jun Jie dan Dosen Fong menghela nafas berat, sementara Wei Bo menatap tiga orang di depannya tidak mengerti.

Dosen Fong mengikuti dokter itu kembali ke dalam ruangan ICU untuk membicarakan perawatan Fu Zhen lebih lanjut. Jun Jie menyandarkan punggungnya ke dinding. Mencoba menenangkan kecemasannya yang membeludak.

"Racun? Apa maksudnya? Siapa yang meracung Fu Zhen?" tanya Wei Bo tiba-tiba.

Jun Jie menghela nafas, "Wei Bo, kau tahu itu ruangan apa?"

Wei Bo mengernyitkan dahinya, "Ruang penyimpanan."
"Bukan ruang penyimpanan biasa. Tempat itu menyimpan banyak senyawa kimia. Fu Zhen masuk ke dalam sana dengan membawa api. Sepertinya cairan Sulfur dan Klor yang tersimpan di sana bereaksi ketika berdekatan dengan api yang dibawa Fu Zhen."

"Bereaksi?" tanya Wei Bo masih tidak mengerti.

"Kau tidak akan mengerti meski kugambarkan reaksi kimianya. Singkatnya, kedua senyawa itu jika bersentuhan dengan api akan menghasilkan gas beracun. Itu sangat berbahaya untuk manusia."

"Apa Fu Zhen akan selamat?"

"Entahlah. Aku tak tahu seberapa banyak yang terhirup oleh Fu Zhen. Berdoalah yang banyak. Semoga dia bisa bertahan." Jun Jie tersenyum miris. Sejurus kemudian dipejamkannya matanya rapat-rapat.

Wei Bo menatapnya kosong. Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya gemetaran. Ia hempaskan tubuhnya di atas kursi di samping Jun Jie yang tengah bersandar.

"Ini salahku~...." gumam Wei Bo lirih. Sangat lirih hingga hanya telinganya sendiri yang bisa mendengarnya.

"Jun Jie, cepatlah masuk ke dalam." panggil Dosen Fong sambil membuka pintu ruang ICU.

"Ada apa?" tanya Jun Jie.

"Fu Zhen mengigau. Dia memanggil-manggil namamu dari tadi. Sepertinya otaknya sedang meracau karena pengaruh tekanan darahnya. Kemarilah. Ladeni apa saja yang Fu Zhen katakan. Kita harus menjaga kestabilan detak jantungnya sampai proses cuci darah selesai." jelas Dosen Fong. Jun Jie menurut. Ia bergegas masuk ke dalam. Setelah itu Dosen Fong kembali menutup pintu rapat-rapat. Meninggalkan Wei Bo yang tengah terpekur sendiri dengan air mata berlinangan.

###

"Hei? Xiao Jie?" seruku senang begitu kulihat Xiao Jie muncul dari balik pintu. Ia berjalan mendekat ke ranjangku lalu duduk di sampingku.

"Kau tahu? Kau semakin jelek jika memakai infus ini." celetuk Xiao Jie. Sontak kupukul bahunya dengan majalah yang sedang kupegang.

"Kau itu tidak sopan sekali. Teman lagi sakit malah diejek seperti itu. Dengar ya, besok sore aku sudah boleh pulang dari rumah sakit!" protesku. Xiao Jie tertawa mendengar celotehanku.

"Nenek Tian mana?"

"Dia sedang di toilet. Seharian tadi dia tidur terus di sini."

"Makanya, cepatlah sembuh. Kasihan nenekmu, sudah tua tapi tidur terlantar gara-gara cucunya."
Kupukul lagi bahu Xiao Jie keras-keras. Dia memang lihai membuatku mendengus sebal dengan candaannya.

Rasa senang semakin berlipat ganda di hatiku mengingat kata-kata Dokter Chang tadi pagi. Akhirnya aku boleh pulang besok sore. Berminggu-minggu tidur di rumah sakit, membuatku rindu dengan ranjang manisku di rumah.

"Ehm, Xiao Jie, aneh ya. Berminggu-minggu aku di rawat di sini, tapi sekalipun Wei Bo tidak datang menjengukku. Dia itu pacar yang payah." kataku. Kupandangi garis-garis yang memenuhi selimutku. Aku termenung, sebegitu marahkah Wei Bo padaku hingga tak mau menengokku di rumah sakit?

"Fu Zhen, sebenarnya sudah lama Wei Bo menitipkan ini padaku. Mengingat kau sedang sakit, maaf aku baru memberikannya sekarang." ucap Wei Bo sambil mengeluarkan sebuah kotak kado dari dalam tasnya. Kuraih kotak berbalut kertas merah jambu itu.

"Kado? Tapi aku kan tidak sedang berulang tahun."

"Buka saja."

Kubuka kado berukuran persegi itu. Sebuah boneka panda sebesar tangan tersenyum padaku. Langsung kuambil boneka itu. Tiba-tiba secarik kertas terjatuh ke pangkuanku.

"Hem? Ada suratnya?" gumamku dengan senyum lebar. Menerima boneka itu membuatku berpikir pasti Wei Bo tidak marah lagi padaku. Dia sedang sangat sibuk, makanya menitipkannya pada Jun Jie. Segera kubuka surat yang terlipat rapi itu.

Dear : Tian Fu Zhen

Aku tahu, kuno sekali aku menulis surat ini padamu. Maafkan aku, Fu Zhen. Bahkan meneleponmu saja aku tak mampu. Maaf, gara-gara aku kau menjadi celaka seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu cairan kimia akan berubah-ubah seperti itu.

Aku berteman dekat dengan Jun Jie sejak masuk di universitas setahun lalu. Aku baru tahu kejadian yang menimpa dirimu tentang amnesia itu. Lagi-lagi aku hanya bisa minta maaf. Maaf telah menengahi hubungan kalian berdua.

Fu Zhen, kuputuskan untuk menerima tawaran Ayahku. Aku berangkat ke Canbridge dan kuliah di sana. Maaf aku tak sempat pamitan. Mungkin aku baru kembali lima tahun lagi.

Jun Jie orang yang baik. Dia akan menjagamu dengan sepenuh hati. Kembalilah padanya.
Aku tahu aku sangat menyayangimu. Tapi aku sadar, aku tidak pernah becus menjagamu. Maafkan aku, Fu Zhen.

Salam cinta
Pan Wei Bo

Air mataku merembes keluar, memenuhi pelupuk mataku, lalu menetes ke atas surat putih itu. Kutoleh Xiao Jie yang duduk di sisiku. Dia menatapku sayu.

"Kapan dia berangkat ke Canbridge?" tanyaku.

"Dia berangkat saat kau baru empat hari dirawat. Waktu itu kau belum sepenuhnya siuman."

"Kau memberitahu semuanya?"

Xiao Jie menganggukkan kepalanya, "Larut malam dia datang ke rumahku dan memaksaku menceritakan semua. Dia benar-benar menyesal dengan kejadian itu, Fu Zhen."

Isakanku semakin keras. Wajah Wei Bo berkelebat di depan mataku. Xiao Jie langsung mendekapku dan menenangkanku.

"Tenanglah, Fu Zhen. Aku di sini."

Perlahan isakanku mereda. Belaian hangat yang Xiao Jie berikan memang selalu membuatku nyaman. Kuraba leherku bagian bawah. Jemariku menangkap sebuah bandul kalung berbentuk bintang dengan kilauan indah di atasnya.

Aku tersenyum. Wei Bo, kau memang orang yang sangat kasar dan kadang terkesan egois. Tapi aku tahu, jauh di dalam relung hatimu, kau adalah orang yang penuh cinta. Aku merasakannya, Wei Bo. Kaulah satu-satunya orang yang membuatku tersenyum di saat hidupku penuh hitam putih. Kau warnaku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.

----------------------------------------
~~~~~~~~~~~~~~E.N.D~~~~~~~~~~~~~~~



Tidak ada komentar:

Posting Komentar