Selasa, 07 Agustus 2012

Deadline (Part 5)


Aaron Yan Fanfiction

Title : Deadline!!!

Author : Ariek Chun-AzzuraChunniess

Genre : Action, Romance

Main Cast :

Liu Yan Shi
Aaron Yan as Yan Ya Lun
Ling Jia Eun
Wu Chun as Wu Ji Zun

Cast :
Chen Yi Ru
Wang Da Dong
Zhao Shu Hai 

#####################################




        "Hei, Ya Lun. Tumben kau terlambat?" sapa Da Dong melihat Ya Lun masuk ke dalam ruang divisi lima.

        "Tidak juga. Baru jam 11." kata Ya Lun sambil melihat jam tangannya.

        Obrolan Ya Lun dan Da Dong terhenti. Lima orang berjas hitam tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Salah seorang mereka berjalan mendekati Ya Lun.

        "Selamat siang. Kami dari Badan Kehormatan Negara. Benar Anda Yan Ya Lun?"

        "Benar." jawab Ya Lun.

        "Ada beberapa hal penting yang perlu kami tanyakan pada Anda. Apa Anda punya waktu?"

        "Tentu. Mari ke ruangan saya." jawab Ya Lun. Lalu dituntunnya kelima orang itu menuju ruangannya yang berada di dalam ruang divisi lima. Ya Lun sengaja memilih agar ruangannya tidak terpisah dari ruang kerja stafnya agar mudah memberikan arahan. Antara ruangannya dan ruang divisi lima pun hanya diberi sekat kaca tebal yang tembus pandang. Ia bebas mengawasi stafnya dari balik meja kerjanya.

        "Saya Wu Ji Zun, kepala penyidik dalam kasus ini." kata seorang laki-laki memperkenalkan dirinya begitu mereka sampai di dalam ruangan Ya Lun.

        "Senang bisa mengenal Anda." kata Ya Lun sambil menyambut tangan Ji Zun, "Silakan duduk."

        Kelima orang itu pun duduk di sofa yang tersedia di ruangan Ya Lun.

        "Maksud kedatangan kami ke sini adalah terkait dengan berita dan rekaman tentang penyelundupan senjata api oleh Menteri Chao. Jelaskan pada kami dengan sedetil mungkin mengenai kejadian itu."

        "Sebenarnya ada orang yang lebih paham mengenai hal ini. Dia lah yang mendapatkan rekaman dan foto-foto itu. Akan saya panggilkan dia."

        Ya Lun meraih gagang telepon yang berada di atas mejanya, "Wei, Jia Eun, cepat ke ruanganku."

        Tak berselang kemudian, terdengar pintu diketuk.

        "Tidak apa-apa. Masuk saja." kata Ya Lun.

        Perlahan Jia Eun muncul dari balik pintu. Ia berjalan maju mendekati meja Ya Lun.

        "Jia Eun, mereka dari Badan Kehormatan Negara, ingin menanyakan beberapa hal padamu."

        "Oh, begitu. Perkenalkan, saya..." tiba-tiba Jia Eun tidak meneruskan kalimatnya. Matanya langsung terbuka lebar melihat laki-laki yang duduk di sofa di depannya.

        "KA, KAU???!" pekik Jia Eun sambil menudingkan jarinya ke arah laki-laki itu.

        "Hah?!! JIA EUN??" teriak Ji Zun lebih kaget. Spontan seluruh orang dalam ruangan itu menatap bingung ke arah keduanya.

        "Jadi, kalian sudah saling kenal, ya? Baguslah, haha..." ujar Ya Lun.

        "Ya Lun Ge, tiba-tiba perutku sakit. Aku harus ke toilet." kata Jia Eun. Ia langsung membalikkan badannya lalu keluar dari ruangan itu dengan sedikit berlari.

        "Jia Eun! Tunggu!" panggil Ya Lun. Jia Eun tidak menoleh sedikitpun dan tetap berlalu dari ruangan itu.

        "Ehm, maaf. Dia orangnya sedikit gugup. Sepertinya saya saja yang menjawab pertanyaannya." kata Ya Lun.

        "I, iya." jawab Ji Zun sedikit gugup. Tingkah Jia Eun sukses membuat pikirannya berantakan.
Sementara itu, Jia Eun yang kabur ke toilet tak henti-hentinya bertanya-tanya. Hatinya kaget bukan main melihat orang yang baru saja ditemuinya.

        "Aduuh! Bagaimana ini?! Kenapa dia ada di sini?! Menyebalkan sekali! Tidak. Aku harus pergi dari sini. Tidak peduli kepala divisi sombong itu berceloteh apa. Aku tidak mau bertemu Ji Zun!" dengan tekat bulat Jia Eun pun keluar dari toilet itu. Sesekali langkahnya terhenti untuk memastikan bahwa di sana tidak ada Ji Zun. Laki-laki yang pernah mengisi hidupnya di masa lalu itu, kini menjadi satu-satunya orang yang paling tidak ingin ia temui.

        "Tungguuu! Jangan tutup liftnya!" teriak Jia Eun sambil berlari ke dalam lift, "Fiuhh, syukurlah masih keburu." kata Jia Eun lega.

        Namun sepertinya ia salah memilih lift. Justru kini ia berada dalam satu lift dengan Ji Zun yang kebetulan ingin menemui seseorang di lantai bawah.

        "Aaaaagh!! Ji Zun! Kau? Kau?!" teriak Jia Eun.

        "Jia Eun!!"

        "Aduh! Bagaimana ini?? Kenapa liftnya lamban sekali?! Cepat!" kata Jia Eun bingung sambil memencet tombol lift berkali-kali.

        "Jia Eun!" Ji Zun meraih tangan Jia Eun dari tombol lift.

        "Lepaskan!"

        "Jia Eun! Dengarkan aku!"

        "Aku tidak mau mendengarkamu! Dan jangan sentuh aku!"

        "Jia Eun, aku mohon! Sampai kapan kau akan begini padaku?!"

        "Untuk apa kau bertanya padaku, ha?! Aku tidak punya urusan lagi dengan laki-laki sepertimu!"

        "Jia Eun! Kau salah paham! Dengarkan dulu penjelasanku!" kata Ji Zun dengan suara tinggi. Tangannya semakin erat mencengkeram lengan Jia Eun yg tak henti-hentinya memberontak.

        GRAUUKK!!

        Tanpa ampun Jia Eun menggigit jemari Ji Zun. Ji Zun langsung melepaskan cenkramannya sambil berteriak kesakitan. Begitu pintu lift terbuka, Jia Eun langsung berlari keluar membelah luasnya lobi utama. Tujuan utamanya adalah segera menemukan taksi lalu pergi dari sana. Ji Zun tak kalah gesit mengejar Jia Eun. Terjadi aksi kejar-kejaran antara keduanya di antara kerumunan banyak orang.

        Begitu sampai di tepi jalan, Jia Eun melambai-lambaikan tangannya mencoba menghentikan taksi. Tiba-tiba sebuah sedan hitam menepi ke sebelah Jia Eun. Keluar dua orang berjas hitam dari mobil itu dan berjalan mendekati Jia Eun. Tanpa diduga mereka menarik tangan Jia Eun dan memaksa Jia Eun masuk ke dalam mobil.

        "Siapa kalian?! Lepaskan!!" teriak Jia Eun sambil memberontak sekuat tenaga.

        "Jia Eun!!" panggil Ji Zun. Melihat pemandangan itu Ji Zun semakin mempercepat larinya.

        Karena terus memberontak, akhirnya salah seorang dari laki-laki berjas itu mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membekapkannya ke mulut Jia Eun. Pelan-pelan tubuh Jia Eun melemas dan matanya menutup. Dengan mudah Jia Eun dibopong ke dalam mobil mewah itu. Tak sempat Ji Zun mengejarnya, mobil hitam metallic itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

        "Jia Eun! Jia Eun!!" teriak Ji Zun dengan nafas memburu.

        #############

        "Apa?! Jia Eun diculik??!"

        "Iya."

        "Aku tidak salah dengar?? Bagaimana bisa?!"

        "Entahlah. Kejadiannya berlangsung begitu cepat."

        "Kau sudah hubungi polisi?!"

        "Sudah. Aku mengikuti penculik itu. Sekarang aku berada di perumahan elit di timur Sungai Qing."

        "Baik! Tunggu aku! Aku akan menyusulmu ke sana." Ya Lun menutup teleponnya. Segera diambilnya kunci mobilnya lalu berlari keluar.

        "Ya Lun!" panggil Yan Shi melihat Ya Lun berlari keluar dari ruangannya menuju pintu ruang divisi lima. "Kau mau kemana?" tanya Yan Shi kemudian sambil berjalan menghampiri Ya Lun.

        "Aku ada urusan penting." jawab Ya Lun singkat sambil mempercepat jalannya.

        "Jangan terlalu lelah. Kondisimu baru saja pulih. Cepat kembali ke ruanganmu! Biar aku yang menyelesaikan pekerjaanmu."

        "Ini bukan pekerjaan. Kau saja yang kembali ke dalam sana."

        "Ya Lun!" bentak Yan Shi sambil menahan lengan Ya Lun.

        "Yan Shi, aku buru-buru."

        "Buru-buru apa, ha? Cepat kembali!"

        "Yan Shi! Jia Eun sedang dalam bahaya!!"

        Spontan Yan Shi melepaskan tangannya dari lengan Ya Lun. Matanya menatap dalam ke wajah Ya Lun.

        "Jia Eun diculik." suara Ya Lun mulai merendah, "Pasti Menteri Chao yang melakukannya. Yan Shi, aku mohon kali ini gunakan akal sehatmu. Jia Eun diculik karena foto dan rekaman yang dia ambil waktu itu. Akulah yang menyebabkan dia diculik. Aku tidak akan mengampuni diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada Jia Eun." jelas Ya Lun tegas, lalu kembali ia meneruskan langkahnya.

        "Tunggu! Aku ikut!"

        "Kau pikir aku mau kemana, ha? Tempat ini terlalu bahaya untuk gadis sepertimu." kata Ya Lun dengan sorot mata tajam. Ia membalikkan tubuhnya lalu berlari kencang menuju mobilnya.

        Tanpa sepengetahuan Ya Lun, Yan Shi turut berjalan menuju mobilnya dan mengikuti Ya Lun dari belakang. Dilihatnya Ya Lun memarkir mobilnya di depan sebuah komplek perumahan elit, lalu berjalan menuju sebuah rumah. Sejenak Yan Shi diliputi keraguan. Haruskah ia mengikuti Ya Lun ke sana?

        "Ji Zun!" panggil Ya Lun melihat Ji Zun berdiri di samping sebuah rumah.

        "Ssst... Jangan terlalu keras." kata Ji Zun sambil menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.

        "Bagaimana? Kenapa polisi belum datang?"

        "Katanya mereka terjebak macet dan terpaksa mengambil jalan memutar. Mungkin tiga puluh menit lagi tiba."

        "Bagaimana keadaan Jia Eun?"

        "Aku tidak tahu. Sejak dimasukkan ke dalam rumah itu, aku tidak melihatnya lagi. Jia Eun mungkin masih belum sadar."

        "Belum sadar? Apa maksudmu?"

        "Sebelum diculik dia dibius."

        "Apa?!" Ya Lun terperanjat mendengar kata-kata Ji Zun. Hatinya semakin merasa bersalah melihat keadaan Jia Eun.

        "Aku benar-benar heran. Jia Eun bukanlah berasal dari keluarga kaya, apa sebenarnya yang mereka incar?" heran Ji Zun.

        "Yang mereka incar bukan uang." sahut Ya Lun, "Mereka menculik Jia Eun, karena bagi mereka Jia Eun adalah ancaman untuk rencana mereka."

        "Ancaman? Kau bicara apa?" tanya Ji Zun semakin bingung.

        "Jia Eun tidak sengaja mengambil foto dan rekaman mereka ketika mereka bertransaksi. Sebenarnya waktu itu dia hampir tertangkap, tapi aku berhasil menyelamatkannya. Aku tidak tahu jika mereka masih mengejar Jia Eun, bahkan sampai menculiknya. Ini semua salahku."

        "Foto? Dan rekaman? Maksudmu yang menculik Jia Eun adalah Menteri Chao?!"

        "Iya."

        "Dasar pejabat serakah! Awas saja kalau dia berani menyentuh Jia Eun!!"

        Ya Lun terdiam mendengar kata-kata Ji Zun.

        "Kenapa kau begitu mengkhawatirkan Jia Eun?"

        "Sebenarnya, dia kekasihku."

        "Eh?"

        "Tapi karena suatu hal, kami bertengkar hebat. Dan sejak saat itu kami tidak pernah lagi saling bicara. Bahkan aku tidak tahu kalau dia bekerja di kantor berita. Aku benar-benar kekasih yang buruk."

        "Oh." Ya Lun mengalihkan pandangannya.

        "Sial! Kenapa sampai sekarang polisi belum datang juga?!" geram Ji Zun semakin resah.

        "Sepertinya, kita saja yang bertindak." sahut Ya Lun tiba-tiba

        "Apa?"

        "Mereka bukan tipe penculik yang akan membebaskan sanderanya demi uang tebusan. Mereka menculik Jia Eun karena obsesi mereka. Jia Eun bisa berada dalam bahaya sewaktu-waktu."

        Ji Zun terdiam mendengar penjelasan Ya Lun.

         "Ji Zun! Kita harus menyusup ke dalam. Sekalipun kita tidak bisa membebaskan Jia Eun, setidaknya kita bisa memastikan keselamatannya hingga polisi tiba."

----------------------------------------------
Bersambung Ke Part 6



Tidak ada komentar:

Posting Komentar